Keluarga Marano

    Cerpen Yusrizal K.W.

    "KANCIANG!" Marano mengumpat. Raut wajah Uriah, istrinya terlihat menegang, bak bangkai cecak yang jatuh ke gelas kopi.

    Uriah mendengus. Dan, maloak: pingin muntah. Kapuyuak: Lipas! Uriah menarik napas. Marano, di mata perempuannya itu, ibarat palambahan . Comberan. Busuk. Atau, sebaliknya.

    Sebuah pertengkaran, baru berlangsung. Kesuami-istrian Marano dan Uriah (selalu) kemasukan badai. Berdenyut. Gerah. Selalu begitu.

    "Aku bisa bunuh kau, Uriah. Hari ini juga, bisa kulakukan!"

    Marano meraih sebilah pisau dapur. Karatan. Uriah membulalangkan matanya. Agak ngeri.

    Marano mendekatinya tergesa. Kasar. Terkesiap Uriah. Hatinya terkengkeng seketika. Sebelum Marano menyentuhkan kemarahan fisiknya, Uriah menghambur ke luar rumah. Terburu. Napasnya terpompa. Dari belakang, umpatan Marano menggema sampai ke pekaran gan luas.

    "Batino poyok! We-te-es. Berkhianat ke laki. Aku cinta kau, sepenuh hati. Ondeh , mak, babi. Haram! Kubunuh kau!"

    "Itu fitnah! Aku tak pernah tidur dengan laki-laki lain. Mungkin kau, dengan si Atun anak Pak Pengka, atau perempuan di luaran," sahut Uriah. Terus berlari. Marano membara karena istrinya melawan. Memalukan. Orang ramai memperhatikan pertikaian ia dan istrinya.

    "Apak, sudahlah! Malu. Sebaiknya, bertengkar di rumah. Buang pisau itu," Buruik, anak sulungnya menegah di tengah jalan. Uriah menoleh dan berteriak terengah: "Apak kau itu sudah gila. Bini sendiri mau dibunuh. Curiga tak beralasan. Dasar menyimpan busuk. Puih!"

    "Jangan banyak ciracau kau. Kubunuh juga kau nantinya!" Marano tak melanjutkan usaha pengejarannya karena dicegah Buruik. Tapi, merah mata Marano, tetap menyimpan berang. Hasrat menuntaskan sakit hati membayang di matanya. Didesah napasnya.

    "Kanciang!" Marano mengumpat lagi. Sementara istrinya tak terlihat, melenyap di balik sebuah kedai kopi Mak Unuih. Dari situ, terdengar dangdut di radio: Tuduhlah aku, sepuas hatimu....

    "Aku tak tahan. Habis!" begitu Uriah memberingas sebelum menghilang di pandangan suaminya.

    ***

    "Apak kau itu suka ngelonte! Semoga kena sipilis. Aids pun tak apa...." Uriah menghapus air mata. Ketabahan dan kesabarannya berantakan. Suaminya sejak pertengkaran itu menghilang. Tak pulang-pulang. Baginya, tak apa. Tampaknya, kesuami-istrian mereka sedang sakit parah. Fiah pun terlihat bingung. Tak tahu, apak atau amaknya yang salah. Keduanya selalu punya persoalan. Selain masalah uang beli beras yang selalu tak cukup atau tak ada, juga sering soal orang ketiga yang mencurigai. Soal seks yang balau. Marano yang pemabuk. Uriah yang cerewet.

    Menurut apaknya --Marano itu-- amak suka mendatangi dukun laki- laki di ujung utara pinggir kota ini, dan bersedia disebadani oleh si dukun. Berarti, pikir Fiah: keduanya saling membusuki. Saling tuduh-tuduhan.

    Uriah memandang anaknya. Fiah memang manis. Banyak yang menggoda. Mulai dari anak setempat, sampai tukang kredit dan pegawai rendahan walikota. Sayang, ia cuma bisa selesai kelas dua SMP. Karena itu, kerjanya tak terlalu tinggi. Buruh harian pabrik biskuit.

    "Bercerai pun Amak siap!" Uriah sesungukkan, lagi. Dari kejauhan, klakson Fuso terdengar. Siang panas. Kentongan es menyeruak. Anak tetangga menangis, terdengar umpatan ibunya. Pinggir kota, masih merasakan gemuruh motor dan uap aspal terik dari matahari. Di mulut pintu, ada yang sarungan. Telanjang dada seraya mengipas-ngipasi badan.

    "Cari laki, jangan seperti apak kau itu! Hidung belang. Pemabuk. Cukup amakmu saja yang menderita. Kesal. Menahan remuk," Uriah seperti tegar kembali. Matanya tak berair lagi. Pertengkaran itu, bermula dari (selalu) saling mencurigai, kembali teringat. Tak peduli. Uriah berpikir, semuanya mesti tuntas. Harus berakhir, dengan keburukan apa pun. Jadi. Ya, jadi apa saja siap diterima.

    "Sudahlah, Mak . Diam saja. Nanti baik lagi dengan apak!"

    "Tak semudah itu, Fiah!"

    Fiah mendegup ludah. Ia perhatikan amaknya. Ada ombak besar dan ganas di matanya. Kadang api, menyala-nyala dari mata cekung yang selalu lembab itu.

    "Pokoknya, amak mesti cerai secepatnya dengan apakmu itu. Biar jelas, amak mesti cari makan sendiri. Amak harap, kau bisa cari suami kaya, baik hati, santun ke mertua.... Biarlah jadi istri kedua, asal istri kedua orang kaya, pak pejabat. Asal tak terlan tar...."

    Fiah, gadis mulai masak itu mengangguk. Kemudian, ia menggenggam tangan amaknya itu. Di luar, membias debu hawa panas. Leher Fiah berpeluh. Sesekali, terasa amis dari rongga ketiaknya.

    ***

    Malam mendengkur. Uriah menimang pisau kala azan ashar selesai. Anak-anak masih bermain di pekarangan. Bernyanyi-nyanyi. Potong bebek angsa, masak di kuali.... Nona minta dansa, dansa empat kali....

    Darah Uriah tersendat-sendat. Dadanya terasa hangus. Panas. Pisau ia taruh di atas meja. Lampu dinding membiaskan karatan pisau samar-samar. Ia merapatkan pintu, seraya lebih dulu menatap jauh ke depan: siapa tahu Fiah pulang kerja.

    TV tetangga terdengar bergemuruh. Barangkali, tengah berlangsung peperangan dalam tayangan layar emas yang diserap antena UHV. Uriah bisa seketika mengabaikan itu. Tak perlu numpang nonton. Ia ingat suaminya. Marano. Leher suaminya itu mengeliat-liat di antara bayangan pisau. Ia, begitu ingin sekali menuntaskan sega lanya. Menghujamkan pisau ke dada Marano. Atau menggoroknya begitu saja kala si Marano terjerembab kurang sadar dalam mabuk.

    Dorong ke kiri, dorong ke kanan, hore.... Anak-anak terdengar meriuh di telinganya. Sumpek. Malam makin merangkak. Hingga hening. Hingga yang ada cuma suara TV tetangga dan klakson dari pinggiran jalan besar, beberapa ratus puluh meter dari rumahnya.

    Pelabuhan Teluk Bayur pun mengambang di matanya. Ia seketika terasa menangis. Marano yang makin ia benci kini, selalu menitipkan detik-detik kelabu. Kusam. Selalu, selalu saja, kalau tak pulang mabuk, suaminya yang kuli di pelabuhan itu, pasti dalam keadaan kening berkerut. Dan berkata, "Tak dapat uang. Pinjam saja ke tetangga, atau jual dulu subangmu itu...."

    Sambutan Uriah, tak lain, "biar mati lapar saja kita. Kau selalu pulang tanpa upah yang bisa diharapkan. Habis ke mana? Ke perempuan. Mabuk? Atau...."

    "Anjing! Diam! Kupotong lidahmu nanti," begitu kata Marano, lalu menampar. Pertengkaran pun hidup. Uriah menangis keras-keras. Ia memukuli dadanya sendiri berkali-kali. Lalu, Marano menghambur ke luar pintu. Kalau tidak, ia meraih pisau, dan menggertaki Uriah sambil menekan pisau ke leher istrinya itu.

    "Kusembelih kau, baru tahu rasa!"

    "Bunuh! Bunuh saja aku!"

    Ingat itu, Uriah merasa tersiksa. Ia ingin menjual dirinya, memenuhi tawaran tidur tukang kredit perabotan yang setiap menagih piutangnya menggoda dengan kalimat-kalimat syur. Bau lendir. Huff. Tidak. Ia masih punya harapan pada dua anaknya. Fiah. Juga Buruik.

    Tapi, suaminya itu, mesti diselesaikan dulu. Ini pisau harus menyelesaikan. Untuk apa susah-susah punya suami. Sudah tak pernah bawa gaji pulang, main perempuan. Mabuk-mabukan. Suka main tangan. Bahkan sering bikin malu, apalagi waktu ketangkap petugas kala meniduri pelacur. Telinganya menghangat. Rasa disentuhkan ke api. Gunjingan tetangga.

    Uriah menguakkan pintu pelan-pelan. Menunggu Fiah. Menunggu Buruik yang sudah seminggu tak pulang-pulang. Menunggu dan me nunggu mimpi semacam apa pun.

    ***

    Dengan hari ini, Fiah tak pulang-pulang. Seminggu sudah. Buruik tak tahu di mana rimbanya kini. Mungkin, tanpa minta izin, ia jadi merantau ke Jakarta. Diam-diam. Entahlah. Tapi, yang mengga duh di benaknya, anak perempuannya itu. Fiah, oh Fiah.

    Suaminya pun, sejak pertengkaran terakhir, tak lagi terlihat puncak hidungnya. Pisau yang disediakannya, masih di atas meja. Tergolek begitu saja, sedikit berdebu. Persediaan beras, tinggal sekali masak. Uang Rp500. Yang perlu digadai, habis. Kini yang tinggal kerisauan.

    Matahari pukul dua siang membakar bumi. Uriah mulai merasakan rasukan hidup yang kelat. Lapar. Perutnya berkeroncongan. Ususnya digaduhi cacing-cacing. Bau debu menyengat, lalu gerah membiaki peluh tak sedap Uriah. Sisa bemo meraung di gang dekat rumahnya.

    Gebalau.

    Lonceng sepeda tukang kredit perabotan mengejutkannya. Uriah tertatih menghampiri pintu. Matanya melindap.

    "Belum bisa angsur sekarang, Bang!"

    "Sudah sebulan lebih, masak masih belum bisa," kata tukang kredit dengan suara besarnya yang kental. Uriah menarik napas. Ia tak bisa mencari alasan. Tukang kredit itu menyandarkan sepedanya ke drum usang di depan rumah. Ia menghampiri.

    "Bayar saja dengan sekali tidur denganku, ha.... ha...." Darah Uriah terkesiap. Laki-laki itu mendengus. Rasanya bau babi. Ia merasa terhina. Laki-laki itu makin seperti babi hutan. Anyir. Menjijikkan. Hampir sama menjijikkan dengan suaminya.

    Ketika tangan tukang kredit itu menyentuh pundaknya, Uriah menepis. Lalu berlari ke ruang tengah, meraih pisau di atas meja. Hidup sedang karatan. Pisau ia hunuskan! Tukang kredit pucat!

    "Pisau ini cukup membayar segalanya!"

    Laki-laki itu, tercekat. Lalu pergi. Sebelum meracak sepedanya, ia berteriak: "Kalau tak lunas dalam bulan ini, kukadukan ke polisi."

    Darah Uriah tak tahu sedang mengalir ke mana. Mungkin ke langit. Setelah itu yang ia ketahui, bahwa ia menangis sejadi-jadinya. Sejadi-jadinya.

    Lelah menangis, ia tertidur. Lalu terasa sekujur tubuhnya bagai kehilangan darah. Tak sadarkan diri, hingga malam begitu meremang diterpa cahaya bulan sabit.

    ***

    Rumah Uriah tak bercahaya. Orang sekitar tak peduli, kendati pintu depan masih ternganga. Hingga dini hari, pintu rumah itu terkuak paksa. Terdengar suara parau laki-laki.

    "Riah.... Riah...."

    Tak ada sahutan. Laki-laki itu berjalan sempoyongan. Setelah sampai di dalam, ia terjerembab. Teler. Mulutnya menyerpih- nyerpih. Dan, hanya kelam dan nyamuk menyengat hebat.

    ***

    Keriuhan pagi, di pekarangan sumpek itu membangunkan laki-laki di dalam rumah. Ia, Marano. Mata menyipit, sendawa sesekali. Tak beberapa jauh, ia mencium bau khas. Istrinya, ia lihat tergele tak. Ketika ia sentuh, ada denyut yang melemahkan jantungnya. Ia goyang berkali-kali tubuh istrinya, tak bergerak.

    "Riah, Riah.... Aku pulang! Oh, di mana Fiah, di mana Buruik.... Anakku."

    Marano gelisah sendiri. Badannya terasa kehilangan daya. Ia cuma raih tangan istrinya. Ia rasakan denyutnya. Masih. Masih hidup, gumamnya.

    Dan, cepat-cepat ia menghambur ke luar. Minta pertolongan. Namun, baru saja ia mengabari ke beberapa tetangga, beberapa orang polisi mencekalnya. Setelah itu, hanya orang ramai yang melihat Marano digiring ke kantor polisi. Kedua tangannya diborgol.

    Sekejap keterkesiapan atas ditangkapnya Marano, orang-orang bergeduru ke rumah Uriah. Setelah itu, Uriah disembur-sembur dengan air dingin, setelah sengaja mendatangkan wanita tua yang diyakini sebagai dukun. Bau kemenyan menyambar-nyambar.

    Lamat-lamat, terdengar langkah tak beraturan dari luar. Beberapa orang yang melingkari Uriah, menoleh ke arah hentak kaki berting kah itu. Fiah.

    "Sebaiknya aku mati saja? Laki-laki bejat. Ia ambil kehormatanku. Ia campakkan aku begitu saja. Pemerkosa. Kulaporkan kau ke poli si," tiba-tiba ada suara tangisan diselai omelan parau Fiah.

    Tangisan bergabung omelan itu tercekat seketika, saat matanya menangkap beberapa orang melingkari amak nya. Orang-orang menatap kesah ke Fiah. Tanda tanya besar di kening mereka masing-masing.

    "Kenapa amakku?" Fiah mengitari pandang kencang ke beberapa orang. Salah seorang menjawab, "Pingsan lantaran kelelahan."

    Sementara wanita dukun itu masih menyembur-nyembur Uriah dengan air putih dimantrai. Tapi, belum juga siuman. Dalam kenyataan itu, Fiah merangkul amaknya erat-erat, seraya menangis sehabis pekik.

    "Lebih baik kita mati saja, Mak .... Penderitaanmu akan bertambah kalau mendengar berita buruk dariku ini, huk...hu.... Uuuu...."

    Setelah itu, Fiah nampak berkobar. Matanya berkilat-kilat. Dadan ya turun naik, mengiringi tarikan napasnya yang terasa berat menyumpal.

    "Mana pisau..., mana pisau? Biar kami mati saja!"

    Ramai-ramai orang memegangi Fiah. Si dukun terus menyembur- nyembur.

    ***

    Senja hari, Uriah sadar. Fiah meratap di kamar. Keduanya, seakan sebuah ruang kecil yang kehilangan cahaya. Kelam.

    Di rumah tetangga, tengah berkumpul beberapa orang laki-laki dan perempuan. Salah seorang di antaranya, Ketua RT dan tiga orang polisi.

    "Sebaiknya, kabar tentang Marano membunuh pelacur di pantai, jangan segera dikabarkan kepada Uriah dan Fiah. Mereka masih lemah, dan perlu ketenangan...." kata Ketua RT. Di luar sana, tiba-tiba terdengar sirine panjang. Meraung-raung. Beberapa orang berlarian, dan di antaranya ada yang berteriak: "Kebakaran, kebakaran...."***

    Padang, April 1996


      • catatan:
      • kanciang = semacam umpatan/cercaan kasar
      • maloak = mual, isyarat mau muntah
      • apak = ayah
      • amak = ibu
      • ciracau = ngomel-ngomel
      • ondeh, mak = aduh, mak


    Dimuat Media Indonesia, Minggu 5 Januari 97