Cerpen Yusrizal K.W.
Dan, mendung pun pecah. Hujan turun. Aku termangu. Tak ada siapa-siapa di jalan depan rumah. Kelam menyambut dengan kemalamannya yang gigil. Kesepianku terasa kronis.
Dari beranda, aku melangkah masuk, menutup pintu. Ruang tamu menyambutku seperti sedia kala: Tanpa istriku Vina.
Hari ini, hari keseratus berjauhan dengan Vina. Hari tanpa hidangan khas kala hujan turun: bir dan ayam panggang, Semua entah di mana rimbanya. Vina pergi, tanpa mesti berjanji kembali.
"Aku mencintaimu, Vina."
Selalu itu yang mengawali pertengkaran di antara kami. Rasa cinta yang dipaparkan reflek diiringi dengan gerakan menampar sepasang pipinya yang putih mulus.
"Aku juga, cinta padamu," jawaban Vina itu, senantiasa saja diikuti oleh gerakan tangannya melemparkan salah satu perabot rumah. Paling kurang gelas, piring atau vas bunga ke arahku.
Aku, dingin. Hujan, dingin. Malam, dingin. Segalanya membuat hati terkenang Vina, istri yang disahkan dengan sebuah pesta pernika han yang meriah.
Pada kemudiannya --lebih tepat hari-hari berikut setelah malam pengantin usai-- aku merasakan kami adalah pasangan yang aneh. Percintaan dalam rumah tangga kami tidak berjalan sebagaimana layaknya yang dimiliki dan diidamkan orang atau oleh banyak pasangan.
Hidup adalah keriangan yang gamang, bagi kami. Dari saat ke saat, selalu saja kami sibuk mendebat persoalan cinta. Kalau tidak di meja makan, ya di beranda atau di ranjang seraya bercumbu. Muaranya, dua saja: ngeri pisah atau terus bertengkar soal pengertian cinta yang tak pernah terpahami dari awal kami pacaran sampai saat betul-betul meyakini diri sebagai pasangan suami istri.
"Kita semakin kejam untuk pengertian cinta yang hakiki," tukas Vina, suatu hari.
"Kita semakin pengecut untuk sebuah keyakinan bercinta yang benar," sahutku.
Maka, seterusnya yang justru terpahami: kami harus bertengkar. Kami mesti saling curiga. Sepertinya kami wajib saling menuding dan marah atau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Sebaiknya kita membunuh rasa cinta," kataku, sebelum kami pisah.
"Itu justru lebih biadab. Aku tak sanggup menguburkannya bersamamu," jawab Vina.
"Lantas?"
"Kita tanam saja kebencian!"
Aku tertawa. Vina melotot.
Yah, begitulah sebagian 'kecil' kenangan yang kami miliki. Dalam malam berhujan begini, justru aku membutuhkan kehangatan perteng karan dengan Vina. Sebuah tamparan untuk Vina atau piring, gelas, vas bunga yang melayang yang tak jarang hinggap di pelipisku, bahkan pernah beberapa kali sampai berdarah.
Kini cuma berupa mimpi. Vina telah seratus hari pergi ke rumah ibunya. Aku tak tahu, lebih tepatnya gagal memahami: Apakah dalam hal ini kami bercerai atau tengah menjalani versi cinta yang lain(?)
Entahlah.
Yang jelas, hujan masih turun. Aku bergerak ke kamar. Sebuah ranjang dengan sprei merah jambu, terbentang. Bantal guling yang membentang di tengahnya, seakan menyimbolkan kami betul-betul membuat pagar untuk rasa cinta. Untuk kesuami-istrian kami.
Aku merebahkan badan, memagut bantal guling. Aku mendadak sangat rindu, mencumbu Vina sampai pagi. Sampai mempersoalkan cinta kembali dengan akhir pertengkaran yang barangkali --karena sudah terbiasa-- indah.
Kesepianku semakin kronis. Mendadak, aku ingin menjemput Vina dan membujuknya untuk kembali bersama memperdebatkan cinta. Guna sekedar menghibur diri, aku pandang foto pengantin kami yang terpajang di dinding kamar.
"Aku rindu pada pertengkaran cinta, Vina?!"
***
Bangun tidur, pagi mewarisi hujan yang turun sejak semalam. Aku menjerangkan air, setelah mendidih kuseduh segelas kopi susu. Biasanya, Vina menghidangkannya untukku, berikut telur setengah matang. Dan, lalu kami bercerita tentang masa tua yang pasti datang dengan keberagaman tingkah polah cucu dari anak-anak yang kami lahirkan. Sebelumnya, tentu, selalu saja kami sepakati untuk tak ragu bercinta guna setetes benih yang lebih dulu bakal hidup dalam rahim Vina. Artinya, aku selalu berkali-kali bertanya, apakah ia telah siap untuk menjadi ibu. Maksudnya, Vina akan senantiasa balik bertanya, apakah aku telah siap untuk menjadi ayah.
Untuk paparan yang terakhir, soal menjadi ibu dan ayah, kami harus merasa cepat-cepat menyatakan dalam waktu yang berbeda dengan ungkapan senada: Tahun depan saja.
Dan, yang termiliki setelah itu, aku membiarkan Vina merebahkan kepalanya ke dadaku. Lalu, kata cinta jugalah yang akhirnya melenyapkan kehangatan itu.
"Aku mencintaimu?"
"Aku juga, mencintaimu?"
Biasa, ya seperti biasanya, kami saling tatap. Saling mencari sesuatu di balik pandangan mata masing-masing sehingga betul- betul menemukan apa yang dinamakan ketakyakinan pada apa yang terucap.
Setelah mendapatkan ketakyakinan, tepatnya ketiadaan kepercayaan diri terhadap kehadiran pasangan hidup, kami membakar pertengkaran. Vas bunga melayang, atau gelas dan piring. Juga, tanganku akan melekat kasar di sepasang pipinya.
Huff. Hujan terus turun. Aku merapatkan kedua tanganku di dada. Kulepas pandangan ke sebentangan jalan di depan rumah. Beberapa orang berjas hujan melangkah tergegas. Gadis-gadis manis ber payung berangkat ke sekolah. Kendaraan roda dua bergerak agak perlahan. Daun-daun mahoni di pinggir jalan seperti keberatan ditimpa hujan. Geraknya lemas, berayun gamang.
Aku menyulut rokok. Asap mengepul. Bayangan Vina, lagi-lagi datang. Ini pagi, merupakan hari keseratus satu kami berjauhan, kami berpisah.
Aku rindu. Aku dingin. Aku makin merasa dijangkiti kesepian yang maha kronis. Apalagi mengingat Vina sekaligus dengan tema monoton rumah tangga kami yang tak berubah tentang cinta.
Akhirnya, dengan menembus hujan aku putuskan untuk menjemput Vina. Satu alasan padanya: Selain rindu, aku betul-betul membencinya.
***
Vina sedang di teras rumah menatapi garis-garis hujan yang terus turun sejak semalam. Aku datang dalam basah. Vina terkejut, matanya bergerak-gerak liar.
"Apakah kau datang untuk cinta?!" sambut Vina.
"Aku ingin lebih dulu membawamu pulang ke rumah kita, untuk persoalan baru!"
"Dalam cinta, tak ada persoalan baru!"
"Menurutmu mungkin begitu, tapi bagiku belum tentu!"
Vina tercenung, ia menatapi aku dari atas hingga ke bawah. Tanpa menunggu reaksi lain, aku mencekal tangan Vina dan menyeretnya ke luar teras. Semula Vina meronta, tapi akhirnya patuh.
Ia kubawa menempuh hujan menuju pulang. Jarak tiga kilo kami tempuh jalan kaki, tanpa sepatah kata pun terucap. Yang kurasa, cuma kecamuk dalam dada ini.
Sesampai di rumah, aku membawa Vina duduk bersisian di sofa. Bau tubuhnya sudah lama aku rindukan. Aroma badannya, nyaris tak hafal olehku.
Dalam sayatan dingin yang menulang, aku rangkul Vina. Kutolehkan kepalanya untuk menatap wajahku lekat-lekat. Vina tak menggubris banyak, kecuali menarik nafas berat dan menggigit bibir bawahnya.
Untuk sementara jenak, hanya ada semacam gelembung-gelembung kecil pertanyaan yang tak terjawab. Masalah cinta lagikah?
Tidak. Ini mesti dihadapkan ke masalah baru dan sama hakikinya dengan masalah cinta yang belum bisa kupahami sampai tuntas. Barangkali Vina juga demikian.
Aku mendadak melepas senyum, rasanya amat lembut untuk Vina. Dengan mempererat rangkulannya ke dalam diri yang telah tegak, aku mengecup kening Vina dan mencium bibirnya, tipis.
Setelah itu, Vina melakukan hal yang sama. Mungkin, ia pun telah rindu padaku.
Dalam pakaian yang basah, kami rasanya menemukan hakikat hidup kami yang baru. Makna kesuami-istrian yang patut dipahami dan perlu untuk diyakini bersama sebagai rasa saling mengikat dan melepaskan ikatan itu.
"Ujarkanlah padaku, persoalan apakah yang lebih indah selain cinta?" tuntut Vina, setelah kami sedikit renggang dan sama-sama membiarkan tetesan air dari pakaian kami jatuh ke lantai.
"Akan kuujarkan padamu," kataku, menggenggam tangannya yang lembab dan dingin.
"Segeralah katakan, mungkin masih yang dulu tapi dalam bentuk pertengkaran yang lain dan lebih ganas lagi hakikatnya?!"
"Baiklah, istriku," aku diam sejenak. Tiba-tiba, bibirku ini terasa bergerak, gemetar. Mataku memaku ke mata Vina, mengan tarkan debaran yang maknanya masih terasa baru di hati.
Sementara itu Vina kulihat menahan nafas, sepertinya ia dijangkiti rasa ketegangan yang barangkali aneh atau luar biasa di hati.
"Kenapa terdiam?"
Aku menggeleng. Setelah gelembung-gelembung yang terasa kental di dada ini menghilang perlahan-lahan, dalam suara yang bergetar kukatakan pada Vina:
"Aku benci padamu! Aku benci padamu, Vina!"
Seketika terasa plong. Air mata Vina kulihat satu persatu me netes, kemudian menderas seakan menyaingi hujan di luar rumah yang belum juga berhenti. Peristiwa selanjutnya, Vina memelukku erat-erat, dan menenggelamkan wajahnya ke sedikit bidang dadaku. Lambat-lambat, tapi jelas, dari mulut Vina keluar suara:
"Aku pun benci padamu. Yah, sangat membencimu!"
Maka, aku, Vina: dingin. Namun, merasakan suatu hakikat baru dalam kesuami-istrian kami. Kami, dalam kesadaran yang entah bagaimana, telah semakin rapat berangkulan, sehingga sebagai pelepas rindu, kami melepaskan seluruh pakaian kami yang basah. Dalam sentuhan haru, kembali kami saling membisikkan: benci padamu.***
Padang, April 1995
Pernah dimuat Harian bernas, Yogyakart, 16 April 1995