Erotika Metabiologis dalam Sastra
    Esei Fadlillah

    SASTRA tidak mungkin hadir tanpa teks. Maka teks merupakan struk tur dalam dari sastra itu sendiri, dan juga dengan birahi eroti ka. Dalam sudut pandang erotika, unsur estetik akan selalu me mungkin "diukur" (diuji) dalam persoalan kemanusiaaan dan dilema dilema tragik atau sebaliknya. Unsur teks erotika dalam korelasi ini dipresentasikan dalam wacana sastra secara simbolik (atau tidak), namun ia sering juga hadir secara transparan atau terlalu terperinci sehingga dalam hal ini persoalan erotika selalu ter benturkan dengan etika.

    Terlepas dari persoalan doktrin, wacana erotika bukanlah "anak haram", tetapi merupakan suatu unsur persoalan kemanusiaan. Bila ia tidak hadir dalam wacana metafora maka ia dihadirkan dalam wacana transparan dan ada yang lebih jelas dari hal itu. Dalam penyajian, teks diuji oleh persoalan muatan estetika dan logika. Apakah wacana erotika hanya berhenti sampai kepada erotika dalam konteks biologis atau terus kepada persoalan metabiologis. Bukan tidak mungkin persoalan ini tidak mudah untuk dipatok dan dipilah sebelum duduk dalam garis definitif.

    Bila teks dihadirkan dalam eksplorasi seksual yang begitu jelas sehingga mengakibatkan ia bertolak belakang dengan orientasi etika, maka ia akan dilihat sebagai representasi biologis belaka. Jika pun ada khalayak yang mampu menembus persoalan metabiologi, itu pun karena faktor eksternal sebagai sisi pembantu, karena ia tidak mampu memberikan otoritas kekuasaan sampai ke sana.

    Maka yang membedakan antara persoalan biologis erotika dengan metabiologis erotika adalah persoalan bagaimana teks itu disaji kan (dihadirkan). Bila teks erotika disajikan sebagai satu unsur dalam sastra sebegitu jelas dan terperinci serta transparan maka ia hanya hadir dalam kekuatan birahi erotika biologi, tidak lebih. Sebaliknya bila ia dihadirkan dengan mempergunakan meta fora-metafora dan wacana simbolik tertentu maka ia hadir dalam otoritas erotika metabiologi.

    Realitasnya representasi metafora sebagai eksplorasi erotika, menjadi tidak mudah dikenali, hanya orang-orang tertentu (kha layak) yang akan dapat berkomunikasi dengannya, dan memang diha dirkan untuk orang-orang tertentu (sebagai avantgarde). Dalam metabiologis, wacana metafora menjadi sesuatu yang membebaskan imajinatif dan pemikiran (spiritual) serta tidak menggurui. Khalayak bebas untuk menginterpretasikan serta menemukan makna dalam khasanah metafora alternatif. Pada sisi yang bersamaan ia bergerak dalam proses etika humanis, karena erotika yang diha dirkan dengan diberi pakaian metafora, ia menutup aurat erotik yang hanya orang-orang tertentu saja dapat membuka dan menikma tinya.

    Metafora sebagai "pakaian", menghadirkan teks yang membawa wacana ekstase erotika kemakhlukan yang manusiawi, dari alam yang membe baskan. Alternatifnya; akan berorientasi kepada religiusitas.

    Eksplorasi metafora erotik merupakan eksistensi yang bergerak ke dalam dunia etika, maka ia hanyalah merupakan metode (thariq kata Emha Ainun Nadjib) dan bersifat spiritual metabiologis. Manusia dilihat sebagai makhluk yang berproses membedakan dirinya dari alam lainnya ke dalam bentuk alam kosmos manusia itu sendiri, yakni kemanusiaan. Di sini dapat dilihat bagaimana pentingnya fungsi metafora secara fungsional dalam dunia sastra, sebagai pakaian, sehingga secara intelektual akan dihadirkan realitas humanis dan pencerahan spiritual yang bukan lagi hanya dipandang sebagai persoalan biologis belaka.

    Bagaimana unsur erotika dihadirkan dengan metafora yang tajam, hal itu terlihat dalam kaba lisan Minangkabau (sebagai sebuah sampel) yakni; Cindurmato (bukan teks klasik yang tertulis) atau naskah drama Wisran Hadi. Penghadiran unsur erotik dengan metafora Bundo Kanduang yang meminum air kelapa gading. Deskripsi metaforanya adalah; Bujang Selamat memanjat pohon "nyiur" (A.A. Navis menyebutnya pohon nyiur ; 1986:51) tujuh hari tujuh malam, dan Bundo Kanduang meminum air dari buah nyiur (Wisran Hadi menyebut pohon nyiur Kelapa Gading kepala daging), dan tidak lama setelah itu ia hamil dan melahirkan Dang Tuanku, dan seorang dayangnya yang turut meminum juga hamil, melahirkan seorang anak, diberi nama Cindur Mato. Ini sebuah metafora erotika paling "busuk" yang pernah ada, yang hanya dapat dimengerti orang sete lah ia dewasa atau mempunyai pengetahuan. Metafora sejenis ini juga dapat kita baca dalam puisi Gus tf bertajuk "Sangkar Daging" (Horison/12/XXVIII/35).

    Juga akan dapat dilihat pada novel-novel modern Indonesia dan setiap penulis berbeda cara penyajiannya, Ahmad Tohari umpamanya, mengambil metafora munyuk-munyuk jantan dalam Bekisar Merah, Y. Wastu Wijaya pada Romo Rahadi dengan metafora bunga.

    Erotika non-metafora (Erotika Biologis) tidak membebaskan imaji nasi dan pikiran, tetapi dapat dikatakan ia sudah menggurui serta membimbing khalayak kepada suatu representasi, maka oleh karena Situ ia tidak membebaskan tetapi mengikat dalam wacananya sendiri. Dalam wacana yang mengikat imajinasi tersebut ia hadir sebagai proses menjauh dari etika (menuju etika yang lain) dan bergerak dalam struktur "kesenjangan" spiritual. Erotika di sini diha dirkan "telanjang" atau dengan "pakaian tidur" yang transparan, dan dapat dimengerti serta dinikmati oleh "semua orang".

    Kehadiran erotika tanpa metafora ini merupakan adanya indikasi alternatif untuk proses spiritual biologis, sebuah proses dereli giusitas dalam ekstase biologis. Maka proses ekstase hanya be rorientasi kepada kemakhlukan yang alternatif untuk alam. Mungkin inilah yang disebut Andrea Dworkin, erotika dalam pengertian porno kelas tinggi, diproduksi dengan lebih baik, dengan kemasan baik, ditujukan untuk konsumsi golongan yang lebih tinggi, seum pama callgirl untuk dunia prostitusi. Pendapat ini diungkapkan Dworkin untuk membedakan antara erotika dengan porno, erotika sama dengan pelacur kelas tinggi (callgirl) dan porno sama dengan pelacur kelas kaki lima (dalam tulisan Myra Sidarta, Matra, no.88 November 1993, h.31).

    Dalam batas semua itu unsur erotika hanya salah satu bagian dari rangkaian struktur yang membangun karya. Maka ia hanya sebagian dari keseluruhan, unsur yang tidak dapat begitu saja ditinggalkan dalam keseluruhan karya. Bahkan ia merupakan salah satu unsur spiritual dari karya dalam konteks birahi estetika.

    Dalam novel sastra Indonesia modern dapat juga dilihat erotika eksistensialis yang "membusuk" dari Iwan Simatupang dengan kar yanya Ziarah. Sang tokoh terjatuh dari gedung yang tinggi, tiba di atas aspal yang panas ia bersenggama dengan seorang wanita dan dilihat oleh polisi. Atau novel Telegram dan Stasiun karya Putu Wijaya, tentang seorang lelaki dalam kesumpekan kereta api, ia masuk ke kamar kecil dan melakukan onani.

    Sosok Y.B. Mangunwijaya menghadirkan erotika dalam navelnya Burung-Burung Manyar berbeda dengan Ahmad Tohari mempresentasikan erotika dalam triloginya, tidak begitu sejajar dengan NH. Dini dengan novel Namaku Hiroko. Mereka mempunyai latar belakang sosiokultural yang berbeda; hal itu dapat dibandingkan bagaimana mereka menghadirkan erotika dan alternatif yang disajikan.

    Juga erotika disajikan dengan dimensi mistik, seperti yang dilakukan Danarto dalam cerpen-cerpennya (Godlob), umpamanya dengan salah satu cerpennya berjudul "Kecubung Pengasih".

    Dalam hal ini mungkin dapat dipertanyakan masih relevankah penda pat Goenawan Mohamad (1981:9) dalam Seks, Sastra, Kita yang menyatakan bahwa dalam kesusastraan Indonesia seks hanya simbol reaksi sedangkan dalam kesusastraan barat seks justru lambang revolusi.

    Adanya Madame Bovary karya Gustave Flaubert, atau Ulysses karya James Joyce, dan Lady Catterley`s Lover karya D.H. Lawrence, tidak akan jauh berbeda dengan Gatoloco, Centini Kamasutra, Asmorogomo, yang memungkinkan perlunya kajian khusus, sebagaimana juga puisi Sitor Situmorang, "La Ronde".

    Di dunia cerpen Indonesia, yang menghadirkan wacana erotik antara lain, "Kisah Malti" karya Achdiat Kartamihardja, "Di Medan Per ang" karya Trisnojuwono, "Kejantanan di Sumbing" karya Subagio Sastrowardoyo, "Musim Gugur Kembali ke Conneticut" karya Umar Kayam, "Aquarium" karya Fadli Rasyid. Untuk dekade yang terakhir mungkin dapat dilihat pada buku kumpulan cerpen terbitan baru dan cerpen-cerpen yang dimuat di majalah Matra, Horison serta harian Kompas, Republika, Media Indonesia, Jawa Pos dst. seperti cerpen "Surat Narara untuk Ananda Tumbur" karya Jhon Handol Malau peme nang (kemudian dibatalkan) ketiga sayembara penulisan cerpen Matra. 1991 (Matra, no.67, Februari, 1992, h.125).

    Basis erotika sebagai wacana tempat berpijak untuk dunia yang lebih luas ia memiliki dua unsur, antara lain adanya unsur laki- laki dan unsur perempuan, dengan kata lain kenegatifan sebagai unsur yang mau tidak mau menghadirkan unsur positif. Akan tidak jauh dari persoalan hadirnya sesuatu yang akan dapat dijelaskan oleh (khalayak berpikir tentang) sesuatu yang tidak hadir. Per soalan dua unsur dalam filosofis Timur dan Barat, jika diidenti fikasikan persoalannya tidak akan berbeda secara mendasar. Hanya saja yang membedakannya adalah cara pandang dan bagaimana memper lakukan basis kehidupan tersebut.

    Bagaimana perbedaan berkomunikasinya kedua unsur tersebut adalah salah satu probabilita yang mengakibatkan perbedaan kultural Timur dengan Barat. Hal itu juga dikarenakan masalah erotika berhubungan erat dengan latar belakang sosiobudaya. Di dunia Timur komunikasi kedua unsur tersebut dilihat dalam bentuk yang harmoni (seimbang), walau setiap etnis budaya di dunia Timur berbeda, dan memang ada juga yang tidak demikian. Dia dilihat secara harmoni kolektif walau sebelumnya ada konflik dan tragedi, tetapi ia tetap dipatok dalam alur melodius harmoni.

    Dunia Barat memperlakukan komunikasi kedua unsur itu dengan cara membenturkan dalam konflik dialektika individual, sehingga feno mena tragik merupakan pandangan dunia di Barat. Dialog tragedi kedua unsur tersebut hadir dalam setiap wacana baik secara meta for maupun tidak. Dapat dibandingkan hubungan kedua unsur itu dengan dasar teori dialogik Bakhtin, bagaimana proses wacana dialog, juga teori "Presence dan Absence" oleh Tzevtan Todorov dalam korelasinya.

    Berdasarkan realitas kedua unsur tersebut, akan dapat dilihat setiap wacana dalam sastra secara semiotik dari sudut erotika metabiologis. Bukan tidak mungkin akan dilihat erotika politik kekuasaan dalam khasanah semiotik dan metafora. Maka erotika kekuasaan dunia Timur dengan dunia Barat akan berbeda titik pandangnya. Dunia Barat mungkin otoritas erotika politik kekua saannya akan lebih bersifat individual sehingga melahirkan erotik demokrat yang tragik, kolonialis yang romantik dan herois kapita lis. Dunia Timur otoritas erotikanya akan memcapai orgasme dalam pengabdian yang harmoni. Sehingga di dunia pembagian kerja secara seksualitas juga persoalan erotika dunia feminimis yang sampai hari ini tidak tuntas untuk dibicarakan sebagai kultural erotik. Wallahu a'lam bissawab.

    Di negeri asing

    Catatan : 1. Tulisan ini merupakan inti makalah dari Seminar "Erotisme dalam Sastra, Bahasa, dan Film" di FSUI Depok 26 November 1994.

    2. Erotika biologis dan erotika metabiologis saya konstruksi dan jabarkan (dalam tulisan ini) dari ungkapan Emha Ainun Nadjib (mungkin berbeda dengan apa yang dimaksud Emha sendiri), wawan cara dalam majalah Matra no. 67 Februari 1992, h.23 dan majalah Panji Masyarakat no.696, 21-30 September 1991. Terima kasih dan salam saya untuk Emha Ainun Nadjib.