Cimuntu Lansie


    Cerpen Wisran Hadi

    Yang sangat menyusahkan pikiran Cimuntu Lansia selama menjadi istri kepala daerah adalah sewaktu menghadiri upacara peresmian gelar Penghulu Batalian Siang kepada Diringgiti. Dia dan suaminya, Mangadek Barajoan, tidak disediakan tempat duduk di dalam Rumah Limo Ruang, tetapi di bawah tenda bewarna kuning di halaman, yang khusus disediakan untuk para pejabat. Memang tempat itu istimewa; ditinggikan, di alas karpet merah dan diberi sofa hijau yang empuk, bahkan dilengkapi lagi dengan kipas angin. Tapi, menurut ukuran Cimuntu Lansia tempat terhormat di dalam sebuah acara adat adalah di dalam rumah. Duduk di bawah palaminan bersama para penghulu.

    "Aku bukan penghulu. Itu sebabnya tidak disediakan tempat di dalam rumah," jawab suaminya sewaktu dia berbisik mendesak agar memarahi petugas yang telah menyilakan mereka duduk di sana. Cimuntu Lansia mendesak suaminya agar pulang saja, sebagai tanda protes, tetapi suaminya tetap mengikuti acara sampai selesai.

    "Bagi suami saya tidak jadi persoalan di mana dia ditempatkan. Tapi, sebagai kepala daerah cara seperti ini pelecehan jabatan!" kata Cimuntu Lansia kepada Penghulu Taliteyin, penanggung jawab acara yang sengaja dipanggilnya dengan tangan kiri.

    "Tidak ada niat sama sekali mengundang seseorang untuk dilecehkan dalam sebuah upacara adat," jawab penghulu itu dengan takzim.

    "Tapi kenapa suamiku tidak dipersilakan naik ke rumah!" "Ini aturan adat. Masalah budaya, Bu." Cimuntu Lansia terpukul sekali. Selama ini, acara apa saja yang dihadirinya, diundang atau tidak, terlambat atau tidak, dia dan suaminya selalu disediakan tempat istimewa dan terhormat. Tapi kini, karena suaminya tidak punya gelar penghulu, lalu disamakan saja tempat duduknya dengan tamu-tamu yang lain. Ini suatu hal yang perlu diselesaikan secara tuntas.

    "Aku harus jadi penghulu! Begitu kata Bang Joan dalam igauannya tadi malam," kata Cimuntu Lansia melebih-lebihkan persoalan kepada adik suaminya, Lakini Basitian, besoknya.

    Dengan suara yang melengking tinggi, Cimuntu Lansia mengatakan kepada Lakini Basitian, bagaimana orang-orang telah menghina Mangadek Barajoan. Suatu hal yang sulit dimaafkan.

    "Sekiranya aku dirampok di sana, lalu semua perhiasanku dilucuti, mungkin belum sesakit itu betul perasaanku. Bayangkan, Tian, seorang kepala daerah dibiarkan duduk di bawah tenda. Sementara entah siapa-siapa, entah mereka itu punya pangkat atau tidak, dipersilakan naik ke rumah. Pakaian mereka hanya hitam semua, usang lagi. Orang-orangnya sudah tua, buruk, kurus! Malah mereka lebih dihargai daripada seorang kepala daerah yang berpakaian begitu mahal dan gagah. Itu kan penghinaan, ya ndak?" Setelah letih memaki-maki, lambat-lambat timbul juga pikiran jernihnya. Mereka memaklumi, tidak mungkin menyalahkan orang lain. Kalau Mangadek Barajoan akan dihormati dalam acara-acara adat, satu-satunya jalan adalah menjadikannya pula seorang penghulu. Kalau seorang kepala daerah juga seorang penghulu, dalam acara adat bagaimana pun juga, pastilah akan ditempatkan di tempat terhormat. Di dalam rumah, di bawah palaminan dan mungkin lebih tinggi daripada tempat duduk penghulu-penghulu biasa.

    Di samping itu, Cimuntu Lansia sendiri langsung menjadi istri seorang penghulu. Bila menghadiri acara-acara adat, dia tidak perlu lagi memakai kebaya, tetapi pakaian adat, sebagaimana istri-istri penghulu lainnya. Dia akan memakai pakaian adat yang mungkin lebih bagus, lebih meriah daripada pakaian adat istri para penghulu lainnya. Pakaian adat yang secara tradisi menandakan seseorang beradat, terhormat dan bermartabat.

    Tidak sulit bagi Cimuntu Lansia mencari seseorang yang dapat memberikan petunjuk tentang cara memperoleh gelar penghulu. Penghulu Ampang Limo yang dipesan dua hari lampau, kini sudah menunggu di ruang tamu. Dari penghulu inilah Cimuntu Lansia mendapat keterangan yang cukup banyak dan sekaligus juga memusingkan.

    Menurut Penghulu Ampang Limo, ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk memperoleh gelar yang bergengsi dan keramat itu. Pertama, gelar penghulu yang diperoleh dari kaum atau pesukuan. Gelar ini diwariskan dari mamak ke kemenakan. Kedua, gelar penghulu yang diberikan oleh bako, keluarga pihak ayah. Ketiga, gelar dari rajo, gelar yang dihadiahkan oleh raja-raja masa lalu terhadap seseorang yang sangat berjasa.

    "Oleh karena gelar itu turun dari mamak ke kemanakan, maka berarti setiap penghulu harus didukung dan diakui oleh sebuah kaum," kata Penghulu Ampang Limo menutup keterangannya.

    Cimuntu Lansia mengerutkan dahi. Apa yang dijelaskan Penghulu Ampang Limo membuatnya sadar bahwa tidak mudah mendapatkan gelar penghulu. Banyak aturan-aturannya. Dia mengira mendapatkan gelar itu begitu mudah menurut mau seseorang yang menginginkannya. Seperti mengangkat seseorang menjadi ketua organisasi.

    Untuk mengikuti cara yang pertama mungkin akan mendapat kesulitan. Setahu Cimuntu kaum suaminya hanya sebuah keluarga yang bermula mukim di lereng Bukit Siguntang-guntang. Sebuah tempat yang sangat bagus dijadikan panorama untuk melihat keluasan laut. Tidak mungkin suaminya dapat mengikuti aturan seperti yang diterangkan Penghulu Ampang Limo. Apalagi, mamak suaminya tidak pula bergelar penghulu.

    "Apa ada cara lain?" tanya Cimuntu Lansia setelah lama diam.

    "Ada. Cara kedua," jawab Penghulu Ampang Lima. Kemudian dijelaskannya tentang pemberian gelar penghulu yang diberikan oleh bako, pihak keluarga ayah. Pihak keluarga yang dimaksudkan adalah kaum dari mana ayah berasal. Kaum itu punya penghulu dan gelar kepenghuluan tersendiri pula. Bukan gelar kepenghuluan kaum itu yang akan diberikan, tetapi sebuah gelar lain yang sengaja dipilihkan. Anak-anak dari seorang ayah, bagi kaum ayah itu disebut anak panca. Jadi dalam bahasa adatnya dikatakan, gelar itu diberikan oleh bako kepada anak panca. Gelar itu hanya boleh dipakai seumur hidup. Tidak boleh diwariskan kepada kemenakan si pemakai. Gelar itu diberikan kepada anak panca yang telah sukses, telah berjasa atau telah berpangkat tinggi. Agar si anak panca juga dapat duduk sama rendah dengan para penghulu lainnya di dalam acara-acara adat. Kelebihan dari gelar yang diberikan bako adalah, nama gelar itu boleh dipesan, sesuai dengan apa yang diinginkan si pemakai.

    "Semacam gelar pesanan," kata Penghulu Ampang Limo tersenyum. "Mungkin nama gelar yang kita pesan itu Penghulu Kiukiu, Penghulu Duo Nokang, Penghulu Balak Anam atau Penghulu Basu Laman," lanjutnya dengan serius.

    Setelah semua keterangan didapatkan, Cimuntu Lansia dan Lakini Basitian berusaha meyakinkan Mangadek Barajoan. Lima hari lamanya kedua wanita itu berusaha menjelaskan kembali apa yang telah dikatakan Pangulu Ampang Limo. Mangadek Barajoan mengangguk-angguk saja. Dia tidak mau membantah. Semakin dibantah akan semakin merepotkan. Bisa-bisa berubah jadi pertengkaran antara suami-istri atau pertengkaran antara kakak dan adik. Mengadek Barajoan cukup berpengalaman dengan pertengkaran-pertengkaran begitu. Selalu saja Mangadek Barajoan kalah. Bahkan Cimuntu Lansia bisa melakukan mogok ranjang dua bulan lebih. Siapa yang bisa tahan. Apalagi jenis lelaki semacam Mangadek Barajoan memerlukan ranjang lebih dari pada keperluan laki-laki biasa.

    "Sebaiknya gelar itu didapatkan dari cara yang pertama. Kalau dapat, juga bisa diwariskan kepada kemenakan," kata Lakini Basitian.

    "Kalau begitu, baiklah," jawab Mangadek Barajoan.

    Satu hal sudah selesai. Yaitu meyakinkan Mangadek Barajoan untuk mendapatkan gelar penghulu. Persoalan berikutnya adalah bagaimana cara mencari satu kaum yang mau menjadikan Mangadek Barajoan sebagai kemenakan yang akan dapat menerima warisan gelar penghulu dari kaum itu. Bagi pikiran orang adat, hal itu mustahil. Bagaimana mungkin ada sebuah kaum yang akan menyerahkan begitu saja gelar pusaka kaumnya kepada orang lain? Entahlah kalau ada hal-hal yang luar biasa terjadi di dalam kaum itu.

    Seorang teman lama Mangadek Barajoan, Palimo Parangusai, yang mendengar kesulitan itu dari Cimuntu Lansia, segera menawarkan jasa.

    "Beres Bu. Bisa diatur. Di kampungku ada satu kaum yang sangat percaya padaku," kata Palimo Parangusai.

    Berkat bantuan Palimo Parangusai, Penghulu Pakok Anam yang dijanjikan itu memang bersedia menjanjikan Mangadek Barajoan kemenakannya. Ada satu gelar penghlu yang kini tidak dipakai di dalam kaumnya. Semacam gelar penghulu pembantu. Gelar itu tidak diwariskan karena mereka kekurangan kemenakaan laki-laki.

    "Tapi mereka mengajukan syarat. Pertama, Rumah Limo Ruang mereka agar dipugar, karena gelar itu akan diresmikan di sana. Kedua, jalan ke kampung mereka diberi aspal, agar kendaraan dapat lewat dengan lancar," kata Palimo Parangusai datang sebulan kemudian.

    "Tidak jadi masalah," jawab Cimuntu Lansia.

    Tapi nama gelar yang akan diberikan Penghulu Basa Bunan tidak disukai Mangadek Barajoan. Nama itu terlalu abstrak dan tidak dapat dimengerti dengan cepat. Padahal artinya cukup bagus. Basa artinya besar atau luas. Bunan maksudnya kebijaksanaan. Jadi, arti lengkapnya penghulu yang arif bijaksana. Mangadek Barajoan ingin nama gelar yang akan dipakainya harus dapat mencerminkan keperkasaan dan kehebatannya sebagai orang yang berpangkat tinggi.

    "Gelas penghulu untukku sebaiknya yang dapat menimbulkan pengertian yang baik. Jangan terlalu lokal. Harus nasional, kalau perlu internasional," Mangadek Barajoan pada teman lamanya itu.

    "Nama gelar itu tidak penting, Joan. Bahkan ada gelar Penghulu Raja Jin dan Penghulu Mantiko Rayo. Nama-nama itu lebih tidak karuan lagi. Yang penting bukan nama gelarnya, tapi gelar kepenghuluan itu sendiri, sobat!" Palimo Parangusai menyakinkan.

    "Aku mau nama gelar yang enak diucapkan. Ya, agak puitislah sedikit," kata Mangadek Barajoan terkekeh.

    "Bagaimana kalau Penghulu Matah Patang? Semakin tua menjadi semakin muda?" "No." "Penghulu Basi Tangka? Besi yang teramat kuat?" "Jangan, layau!" "Lalu apa? Apa, Joan? Penghulu Tabuik Rabah?" "Aku pusing. Kalau tidak didesak Cimuntu Lansia, istriku yang teramat sibuk itu, malu aku menyandang gelar penghulu. Tapi yah...." Berdasarkan kesepakatan Cimuntu Lansia dan Lakini Basitian, gelar penghulu yang dipilih legenda yang keramat dan pernah mengadakan perjalanan yang jauh menyeberangi lima benua. Setia kepada kekasihnya Gondan Gondoriah. Keturunan bangsawan, keluarga pantai dan punya ayah yang keramat.

    Setelah nama gelar itu disetujui, Palimo Parangusai segera menghubungi Penghulu Pakok Anam dalam rapat kaum.

    "Kalau mau memakai nama gelar menurut maunya, silakan bikin sendiri. Nama gelar seorang penghulu bagaimana pun jelek bahasa dan arti katanya, yang penting dirasakan adalah kekuatan magis dan nilai historisnya," komentar seorang kemenakan Penghulu Pakok Anam yang juga mengerti dengan nama-nama gelar penghulu.

    Akhirnya kaum Penghulu Pakok Anam tidak mau memberikan gelar penghulu kepada Mangadek Barajoan walaupun Rumah Limo Ruang sudah selesai dipugar dan jalan ke kampung mereka selesai pula dilumuri aspal.

    Sewaktu persoalan itu disampaikan pada Cimuntu Lansia, dia marah sekali.

    "Negeri apa ini! Gelar penghulu pun dikomersilkan!" raungnya.

    

    Padang, Desember 1996 Cerpen: Cimuntu Lansie

    Oleh Wisran Hadi

    Yang sangat menyusahkan pikiran Cimuntu Lansia selama menjadi istri kepala daerah adalah sewaktu menghadiri upacara peresmian gelar Penghulu Batalian Siang kepada Diringgiti. Dia dan suaminya, Mangadek Barajoan, tidak disediakan tempat duduk di dalam Rumah Limo Ruang, tetapi di bawah tenda bewarna kuning di halaman, yang khusus disediakan untuk para pejabat. Memang tempat itu istimewa; ditinggikan, di alas karpet merah dan diberi sofa hijau yang empuk, bahkan dilengkapi lagi dengan kipas angin. Tapi, menurut ukuran Cimuntu Lansia tempat terhormat di dalam sebuah acara adat adalah di dalam rumah. Duduk di bawah palaminan bersama para penghulu.

    "Aku bukan penghulu. Itu sebabnya tidak disediakan tempat di dalam rumah," jawab suaminya sewaktu dia berbisik mendesak agar memarahi petugas yang telah menyilakan mereka duduk di sana. Cimuntu Lansia mendesak suaminya agar pulang saja, sebagai tanda protes, tetapi suaminya tetap mengikuti acara sampai selesai.

    "Bagi suami saya tidak jadi persoalan di mana dia ditempatkan. Tapi, sebagai kepala daerah cara seperti ini pelecehan jabatan!" kata Cimuntu Lansia kepada Penghulu Taliteyin, penanggung jawab acara yang sengaja dipanggilnya dengan tangan kiri.

    "Tidak ada niat sama sekali mengundang seseorang untuk dilecehkan dalam sebuah upacara adat," jawab penghulu itu dengan takzim.

    "Tapi kenapa suamiku tidak dipersilakan naik ke rumah!" "Ini aturan adat. Masalah budaya, Bu." Cimuntu Lansia terpukul sekali. Selama ini, acara apa saja yang dihadirinya, diundang atau tidak, terlambat atau tidak, dia dan suaminya selalu disediakan tempat istimewa dan terhormat. Tapi kini, karena suaminya tidak punya gelar penghulu, lalu disamakan saja tempat duduknya dengan tamu-tamu yang lain. Ini suatu hal yang perlu diselesaikan secara tuntas.

    "Aku harus jadi penghulu! Begitu kata Bang Joan dalam igauannya tadi malam," kata Cimuntu Lansia melebih-lebihkan persoalan kepada adik suaminya, Lakini Basitian, besoknya.

    Dengan suara yang melengking tinggi, Cimuntu Lansia mengatakan kepada Lakini Basitian, bagaimana orang-orang telah menghina Mangadek Barajoan. Suatu hal yang sulit dimaafkan.

    "Sekiranya aku dirampok di sana, lalu semua perhiasanku dilucuti, mungkin belum sesakit itu betul perasaanku. Bayangkan, Tian, seorang kepala daerah dibiarkan duduk di bawah tenda. Sementara entah siapa-siapa, entah mereka itu punya pangkat atau tidak, dipersilakan naik ke rumah. Pakaian mereka hanya hitam semua, usang lagi. Orang-orangnya sudah tua, buruk, kurus! Malah mereka lebih dihargai daripada seorang kepala daerah yang berpakaian begitu mahal dan gagah. Itu kan penghinaan, ya ndak?" Setelah letih memaki-maki, lambat-lambat timbul juga pikiran jernihnya. Mereka memaklumi, tidak mungkin menyalahkan orang lain. Kalau Mangadek Barajoan akan dihormati dalam acara-acara adat, satu-satunya jalan adalah menjadikannya pula seorang penghulu. Kalau seorang kepala daerah juga seorang penghulu, dalam acara adat bagaimana pun juga, pastilah akan ditempatkan di tempat terhormat. Di dalam rumah, di bawah palaminan dan mungkin lebih tinggi daripada tempat duduk penghulu-penghulu biasa.

    Di samping itu, Cimuntu Lansia sendiri langsung menjadi istri seorang penghulu. Bila menghadiri acara-acara adat, dia tidak perlu lagi memakai kebaya, tetapi pakaian adat, sebagaimana istri-istri penghulu lainnya. Dia akan memakai pakaian adat yang mungkin lebih bagus, lebih meriah daripada pakaian adat istri para penghulu lainnya. Pakaian adat yang secara tradisi menandakan s